Selasa, 18 Februari 2014

Sri Baduga Maharaja PRABU SILIWANGI

Sri Baduga Maharaja


Sebuah kuil yang dibangun untuk menghormati Prabu Siliwangi di Pura Parahyangan Agung Jagatkarta, Bogor, Jawa Barat.
 
Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata) mengawali pemerintahan zaman Pajajaran, yang memerintah selama 39 tahun (1482-1521). Pada masa inilah Pakuan mencapai puncak perkembangannya.
Dalam prasasti Batutulis diberitakan bahwa Sri Baduga dinobatkan dua kali, yaitu yang pertama ketika Jayadewata menerima tahta Kerajaan Galuh dari ayahnya (Prabu Dewa Niskala) yang kemudian bergelar Prabu Guru Dewapranata. Yang kedua ketika ia menerima tahta Kerajaan Sunda dari mertuanya, Susuktunggal. Dengan peristiwa ini, ia menjadi penguasa Sunda-Galuh dan dinobatkan dengar gelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Jadi, sekali lagi dan untuk terakhir kalinya, setelah "sepi" selama 149 tahun, Jawa Barat kembali menyaksikan iring-iringan rombongan raja yang berpindah tempat dari timur ke barat. Untuk menuliskan situasi kepindahan keluarga kerajaan dapat dilihat pada Pindahnya Ratu Pajajaran.

Prabu Siliwangi

Prasasti Batutulis di Bogor menyebutkan keagungan Sri Baduga Maharaja dalam sejarah.
 
Di Jawa Barat, Sri Baduga ini lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Nama Siliwangi sudah tercatat dalam Kropak 630 sebagai lakon pantun. Naskah itu ditulis tahun 1518 ketika Sri Baduga masih hidup. Lakon Prabu Siliwangi dalam berbagai versinya berintikan kisah tokoh ini menjadi raja di Pakuan. Peristiwa itu dari segi sejarah berarti saat Sri Baduga mempunyai kekuasaan yang sama besarnya dengan Wastu Kancana (kakeknya) alias Prabu Wangi (menurut pandangan para pujangga Sunda). Menurut tradisi lama, orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang sesungguhnya, maka juru pantun memopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama itulah ia dikenal dalam literatur Sunda. Wangsakerta pun mengungkapkan bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:
"Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga nira".
Indonesia: Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama pribadinya.

Biografi

Masa muda

Waktu mudanya Sri Baduga terkenal sebagai ksatria pemberani dan tangkas, bahkan satu-satunya yang pernah mengalahkan Ratu Japura (Amuk Murugul) waktu bersaing memperbutkan Subanglarang (istri kedua Prabu Siliwangi yang beragama Islam). Dalam berbagai hal, orang sezamannya teringat kepada kebesaran mendiang buyutnya (Prabu Maharaja Lingga Buana) yang gugur di Bubat yang digelari Prabu Wangi.
Tentang hal itu, Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara II/2 mengungkapkan bahwa orang Sunda menganggap Sri Baduga sebagai pengganti Prabu Wangi, sebagai silih yang telah hilang. Naskahnya berisi sebagai berikut (artinya saja):
"Di medan perang Bubat, ia banyak membinasakan musuhnya karena Prabu Maharaja sangat menguasai ilmu senjata dan mahir berperang, tidak mau negaranya diperintah dan dijajah orang lain.
Ia berani menghadapi pasukan besar Majapahit yang dipimpin oleh sang Patih Gajah Mada yang jumlahnya tidak terhitung. Oleh karena itu, ia bersama semua pengiringnya gugur tidak tersisa.
Ia senantiasa mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan hidup rakyatnya di seluruh bumi Jawa Barat. Kemasyurannya sampai kepada beberapa negara di pulau-pulau Dwipantara atau Nusantara namanya yang lain. Kemashuran Sang Prabu Maharaja membangkitkan (rasa bangga kepada) keluarga, menteri-menteri kerajaan, angkatan perang dan rakyat Tatar Sunda. Oleh karena itu, nama Prabu Maharaja mewangi. Selanjutnya ia di sebut Prabu Wangi. Dan keturunannya lalu disebut dengan nama Prabu Siliwangi. Demikianlah menurut penuturan orang Sunda".

Perang Bubat

Kesenjangan antara pendapat orang Sunda dengan fakta sejarah seperti yang diungkapkan di atas mudah dijajagi. Pangeran Wangsakerta, penanggung jawab penyusunan Sejarah Nusantara, menganggap bahwa tokoh Prabu Wangi adalah Maharaja Linggabuana yang gugur di Bubat, sedangkan penggantinya ("silih"nya) bukan Sri Baduga melainkan Wastu Kancana (kakek Sri Baduga, yang menurut naskah Wastu Kancana disebut juga Prabu Wangisutah).

Nah, orang Sunda tidak memperhatikan perbedaan ini sehingga menganggap Prabu Siliwangi sebagai putera Wastu Kancana (Prabu Anggalarang). Tetapi dalam Carita Parahiyangan disebutkan bahwa Niskala Wastu Kancana itu adalah "seuweu" Prabu Wangi. Mengapa Dewa Niskala (ayah Sri Baduga) dilewat? Ini disebabkan Dewa Niskala hanya menjadi penguasa Galuh. Dalam hubungan ini tokoh Sri Baduga memang penerus "langsung" dari Wastu Kancana. Menurut Pustaka Rajyarajya I Bhumi Nusantara II/4, ayah dan mertua Sri Baduga (Dewa Niskala dan Susuktunggal) hanya bergelar Prabu, sedangkan Jayadewata bergelar Maharaja (sama seperti kakeknya Wastu Kancana sebagai penguasa Sunda-Galuh).
Dengan demikian, seperti diutarakan Amir Sutaarga (1965), Sri Baduga itu dianggap sebagai "silih" (pengganti) Prabu Wangi Wastu Kancana (oleh Pangeran Wangsakerta disebut Prabu Wangisutah). "Silih" dalam pengertian kekuasaan ini oleh para pujangga babad yang kemudian ditanggapi sebagai pergantian generasi langsung dari ayah kepada anak sehingga Prabu Siliwangi dianggap putera Wastu Kancana.

Kebijakan dalam kehidupan sosial

Tindakan pertama yang diambil oleh Sri Baduga setelah resmi dinobatkan jadi raja adalah menunaikan amanat dari kakeknya (Wastu Kancana) yang disampaikan melalui ayahnya (Ningrat Kancana) ketika ia masih menjadi mangkubumi di Kawali. Isi pesan ini bisa ditemukan pada salah satu prasasti peninggalan Sri Baduga di Kebantenan. Isinya sebagai berikut (artinya saja):
Semoga selamat. Ini tanda peringatan bagi Rahyang Niskala Wastu Kancana. Turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, maka selanjutnya kepada Susuhunan sekarang di Pakuan Pajajaran. Harus menitipkan ibukota di Jayagiri dan ibukota di Sunda Sembawa.
Semoga ada yang mengurusnya. Jangan memberatkannya dengan "dasa", "calagra", "kapas timbang", dan "pare dongdang".
Maka diperintahkan kepada para petugas muara agar jangan memungut bea. Karena merekalah yang selalu berbakti dan membaktikan diri kepada ajaran-ajaran. Merekalah yang tegas mengamalkan peraturan dewa.
Dengan tegas di sini disebut "dayeuhan" (ibukota) di Jayagiri dan Sunda Sembawa. Penduduk kedua dayeuh ini dibebaskan dari 4 macam pajak, yaitu "dasa" (pajak tenaga perorangan), "calagra" (pajak tenaga kolektif), "kapas timbang" (kapas 10 pikul) dan "pare dondang" (padi 1 gotongan). Dalam kropak 630, urutan pajak tersebut adalah dasa, calagra, "upeti", "panggeureus reuma".

Dalam koropak 406 disebutkan bahwa dari daerah Kandang Wesi (sekarang Bungbulang, Garut) harus membawa "kapas sapuluh carangka" (10 carangka = 10 pikul = 1 timbang atau menurut Coolsma, 1 caeng timbang) sebagai upeti ke Pakuan tiap tahun. Kapas termasuk upeti. Jadi tidak dikenakan kepada rakyat secara perorangan, melainkan kepada penguasa setempat.

"Pare dondang" disebut "panggeres reuma". Panggeres adalah hasil lebih atau hasil cuma-cuma tanpa usaha. Reuma adalah bekas ladang. Jadi, padi yang tumbuh terlambat (turiang) di bekas ladang setelah dipanen dan kemudian ditinggalkan karena petani membuka ladang baru, menjadi hak raja atau penguasa setempat (tohaan). Dongdang adalah alat pikul seperti "tempat tidur" persegi empat yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukan pikulan. Dondang harus selalu digotong. Karena bertali atau bertangkai, waktu digotong selalu berayun sehingga disebut "dondang" (berayun). Dondang pun khusus dipakai untuk membawa barang antaran pada selamatan atau arak-arakan. Oleh karena itu, "pare dongdang" atau "penggeres reuma" ini lebih bersifat barang antaran.

Pajak yang benar-benar hanyalah pajak tenaga dalam bentuk "dasa" dan "calagra" (Di Majapahit disebut "walaghara = pasukan kerja bakti). Tugas-tugas yang harus dilaksanakan untuk kepentingan raja diantaranya : menangkap ikan, berburu, memelihara saluran air (ngikis), bekerja di ladang atau di "serang ageung" (ladang kerajaan yang hasil padinya di peruntukkan bagi upacara resmi).

Dalam kropak 630 disebutkan "wwang tani bakti di wado" (petani tunduk kepada wado). Wado atau wadwa ialah prajurit kerajaan yang memimpin calagara. Sistem dasa dan calagara ini terus berlanjut setelah zaman kerajaan. Belanda yang di negaranya tidak mengenal sistem semacam ini memanfaatkanna untuk "rodi". Bentuk dasa diubah menjadi "Heerendiensten" (bekerja di tanah milik penguasa atau pembesar). Calagara diubah menjadi "Algemeenediensten" (dinas umum) atau "Campongdiesnten" (dinas Kampung) yang menyangkut kepentingan umum, seperti pemeliharaan saluran air, jalan, rumah jada dan keamanan. Jenis pertama dilakukan tanpa imbalan apa-apa, sedangkan jenis kedua dilakuan dengan imbalan dan makan. "Preangerstelsel" dan "Cultuurstelsel" yang keduanya berupa sistem tanam paksa memanfaatkan tradisi pajak tenaga ini.

Dalam akhir abad ke-19 bentuknya berubah menjadi "lakon gawe" dan berlaku untuk tingkat desa. Karena bersifat pajak, ada sangsi untuk mereka yang melalaikannya. Dari sinilah orang Sunda mempunyai peribahasa "puraga tamba kadengda" (bekerja sekedar untuk menghindari hukuman atau dendaan). Bentuk dasa pada dasarnya tetap berlangsung. Di desa ada kewajiban "gebagan" yaitu bekerja di sawah bengkok dan ti tingkat kabupaten bekerja untuk menggarap tanah para pembesar setempat.

Jadi "gotong royong tradisional berupa bekerja untuk kepentingan umum atas perintah kepala desa", menurut sejarahnya bukanlah gotong royong. Memang tradisional, tetapi ide dasarnya adalah pajak dalam bentuk tenaga. Dalam Pustaka Jawadwipa disebut karyabhakti dan sudah dikenal pada masa Tarumanagara dalam abad ke-5.

Piagam-piagam Sri Baduga lainnya berupa "piteket" karena langsung merupakan perintahnya. Isinya tidak hanya pembebasan pajak tetapi juga penetapan batas-batas "kabuyutan" di Sunda Sembawa dan Gunung Samaya yang dinyatakan sebagai "lurah kwikuan" yang disebut juga desa perdikan, desa bebas pajak.

Peristiwa-peristiwa pada masa pemerintahannya

Beberapa peristiwa menurut sumber-sumber sejarah:

Carita Parahiyangan

Dalam sumber sejarah ini, pemerintahan Sri Baduga dilukiskan demikian :
"Purbatisi purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal musuh alit. Suka kreta tang lor kidul kulon wetan kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang reya, ja loba di sanghiyang siksa".
(Ajaran dari leluhur dijunjung tinggi sehingga tidak akan kedatangan musuh, baik berupa laskar maupun penyakit batin. Senang sejahtera di utara, barat dan timur. Yang tidak merasa sejahtera hanyalah rumah tangga orang banyak yang serakah akan ajaran agama).
Dari Naskah ini dapat diketahui, bahwa pada saat itu telah banyak Rakyat Pajajaran yang beralih agama (Islam) dengan meninggalkan agama lama.

Pustaka Nagara Kretabhumi parwa I sarga 2.

Naskah ini menceritakan, bahwa pada tanggal 12 bagian terang bulan Caitra tahun 1404 Saka, Syarif Hidayat menghentikan pengiriman upeti yang seharusnya di bawa setiap tahun ke Pakuan Pajajaran. [Syarif Hidayat masih cucu Sri Baduga dari Lara Santang. Ia dijadikan raja oleh uanya (Pangeran Cakrabuana) dan menjadi raja merdeka terlepas dari Pajajaran di Tatar Pasundan (Jawa Barat dan Banten).
Ketika itu Sri Baduga baru saja menempati Istana Sang Bhima (sebelumnya di Surawisesa). Kemudian diberitakan, bahwa pasukan Angkatan Laut Demak yang kuat berada di Pelabuhan Cirebon untuk menjaga kemungkinan datangnya serangan Pajajaran.

Tumenggung Jagabaya beserta 60 anggota pasukannya yang dikirimkan dari Pakuan ke Cirebon, tidak mengetahui kehadiran pasukan Demak di sana. Jagabaya tak berdaya menghadapi pasukan gabungan Cirebon-Demak yang jumlahnya sangat besar. Setelah berunding, akhirnya Jagabaya menyerahkan diri dan masuk Islam.

Peristiwa itu membangkitkan kemarahan Sri Baduga. Pasukan besar segera disiapkan untuk menyerang Cirebon. Akan tetapi pengiriman pasukan itu dapat dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi) keraton Ki Purwa Galih. [Cirebon adalah daerah warisan Cakrabuana (Walangsungsang) dari mertuanya (Ki Danusela) dan daerah sekitarnya diwarisi dari kakeknya Ki Gedeng Tapa (Ayah Subanglarang).
Cakrabuana sendiri dinobatkan oleh Sri Baduga (sebelum menjadi Susuhunan) sebagai penguasa Cirebon dengan gelar Sri Mangana. Karena Syarif Hidayat dinobatkan oleh Cakrabuana dan juga masih cucu Sri Baduga, maka alasan pembatalan penyerangan itu bisa diterima oleh penguasa Pajajaran.
Demikianlah situasi yang dihadapi Sri Baduga pada awal masa pemerintahannya. Dapat dimaklumi kenapa ia mencurahkan perhatian kepada pembinaan agama, pembuatan parit pertahanan, memperkuat angkatan perang, membuat jalan dan menyusun Pagelaran (formasi tempur) karena Pajajaran adalah negara yang kuat di darat, tetapi lemah di laut.

Menurut sumber Portugis, di seluruh kerajaan, Pajajaran memiliki kira-kira 100.000 prajurit. Raja sendiri memiliki pasukan gajah sebanyak 40 ekor. Di laut, Pajajaran hanya memiliki enam buah Kapal Jung 150 ton dan beberaa lankaras (?) untuk kepentingan perdagangan antar-pulaunya (saat itu perdagangan kuda jenis Pariaman mencapai 4000 ekor/tahun)].
Keadaan makin tegang ketika hubungan Demak-Cirebon makin dikukuhkan dengan perkawinan putera-puteri dari kedua belah pihak. Ada empat pasangan yang dijodohkan, yaitu:
  1. Pangeran Hasanudin dengan Ratu Ayu Kirana (Purnamasidi).
  2. Ratu Ayu dengan Pangeran Sabrang Lor.
  3. Pangeran Jayakelana dengan Ratu Pembayun.
  4. Pangeran Bratakelana dengan Ratu Ayu Wulan (Ratu Nyawa).
Perkawinan Pangeran Sabrang Lor alias Yunus Abdul Kadir dengan Ratu Ayu terjadi 1511. Sebagai Senapati Sarjawala, panglima angkatan laut, Kerajaan Demak, Sabrang Lor untuk sementara berada di Cirebon.
Persekutuan Cirebon-Demak inilah yang sangat mencemaskan Sri Baduga di Pakuan. Tahun 1512, ia mengutus putera mahkota Surawisesa menghubungi Panglima Imperium Portugis Afonso de Albuquerque di Malaka yang ketika itu baru saja gagal merebut Pelabuhan Pasai milik Kesultanan Samudera Pasai. Sebaliknya upaya Pajajaran ini telah pula meresahkan pihak Demak.

Pangeran Cakrabuana dan Susuhunan Jati (Syarif Hidayat) tetap menghormati Sri Baduga karena masing-masing sebagai ayah dan kakek. Oleh karena itu permusuhan antara Pajajaran dengan Cirebon tidak berkembang ke arah ketegangan yang melumpuhkan sektor-sektor pemerintahan. Sri Baduga hanya tidak senang hubungan Cirebon-Demak yang terlalu akrab, bukan terhadap Kerajaan Cirebon. Terhadap Islam, ia sendiri tidak membencinya karena salah seorang permaisurinya, Subanglarang, adalah seorang muslimah dan ketiga anaknya -- Walangsungsang alias Cakrabuana, Lara Santang, dan Raja Sangara -- diizinkan sejak kecil mengikuti agama ibunya (Islam).

Karena permusuhan tidak berlanjut ke arah pertumpahan darah, maka masing masing pihak dapat mengembangkan keadaan dalam negerinya. Demikianlah pemerintahan Sri Baduga dilukiskan sebagai zaman kesejahteraan (Carita Parahiyangan). Tome Pires ikut mencatat kemajuan zaman Sri Baduga dengan komentar "The Kingdom of Sunda is justly governed; they are honest men" (Kerajaan Sunda diperintah dengan adil; mereka adalah orang-orang jujur).
Juga diberitakan kegiatan perdagangan Sunda dengan Malaka sampai ke kepulauan Maladewa (Maladiven). Jumlah merica bisa mencapai 1000 bahar (1 bahar = 3 pikul) setahun, bahkan hasil tammarin (asem) dikatakannya cukup untuk mengisi muatan 1000 kapal.

Naskah Kitab Waruga Jagat dari Sumedang dan Pancakaki Masalah Karuhun Kabeh dari Ciamis yang ditulis dalam abad ke-18 dalam bahasa Jawa dan huruf Arab Pegon masih menyebut masa pemerintahan Sri Baduga ini dengan masa Gemuh Pakuan (kemakmuran Pakuan) sehingga tak mengherankan bila hanya Sri Baduga yang kemudian diabadikan kebesarannya oleh raja penggantinya dalam zaman Pajajaran.

Sri Baduga Maharaja alias Prabu Siliwangi dalam Prasasti Tembaga Kebantenan disebut Susuhunan di Pakuan Pajajaran, memerintah selama 39 tahun (1482 - 1521). Ia disebut secara anumerta Sang Lumahing (Sang Mokteng) Rancamaya karena ia dipusarakan di Rancamaya.

Minggu, 26 Januari 2014

RADEN KIAN SANTANG (Sinetron MNCTV)

Raden Kian Santang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Raden Kian Santang
Raden Kian Santang.jpg
Format Sinetron
Pembuat MD Entertainment
Pemeran Ananda George
Ine Azri
Ahmad Ridho
Alwi Assegaf
Dwi Putrantiwi
Komposer lagu tema MD Music
Lagu pembuka Mahir's - Sang Prabu
Lagu penutup Mahir's - Sang Prabu
Komposer MD Music
Negara Bendera IndonesiaIndonesia
Jumlah episode 583 episode (hingga 14 Januari 2014) (List of episodes)
Produksi
Produser Dhamoo Punjabi
Manoj Punjabi
Lokasi Jakarta
Durasi 60 menit (21.00 - 22.00 WIB)
Siaran
Saluran asli MNCTV
Format audio Stereo
Dolby Digital 5.1
Siaran perdana Senin, 28 Mei 2012
Periode siaran Senin, 28 Mei 2012–sekarang
Raden Kian Santang merupakan sebuah sinetron yang ditayangkan di MNCTV. Sinetron kolosal ini menceritakan kisah Raden Kian Santang, putra Prabu Siliwangi di Kerajaan Pajajaran.

Pemain

Nama Pemeran Peranan Deskripsi
Alwi Assegaf dan Edwin Soekmono Raden Kian Santang Putra ketiga Prabu Siliwangi yang memiliki kesaktian luar biasa. Adik dari Walangsungsang dan Rara Santang
Inne Azri Nyi Subang Larang /Melati Bodas Permaisuri Pajajaran, istri pertama Prabu Siliwangi, ibu Walang Sungsang, Rara Santang, dan Kian Santang.
Carissa Elfarizi Nyai Kentring Manik /Mayang Sunda Permaisuri Pajajaran, istri kedua Prabu Siliwangi, ibu Raden Surawisesa.
Ryan Deye Prabu Amuk Marugul Raja Japura, uwak Raden Surawisesa, Rekan Prabu Siliwangi. Raja yang sangat menyebalkan.
Ananda George dan Restu Sinaga Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi Raja Kerajaan Pajajaran
Rientammy Nyimas Rara Santang Putri Prabu Siliwangi, adik dari Walangsungsang dan kakak Kian Santang
Ahmad Ridho Raden Walangsungsang Putra pertama Prabu Siliwangi dengan senjata khasnya tombak lulur putih. Merupakan murid dari Syeh Mursam
Zacky Zimah Arga Dana Kekasih Embun Sari ,Mantan Senopati Pajajaran. Ia terkenal dengan kelicikannya dan berupaya menghancurkan kerajaan dari politik adu domba.
Gentar Vyandra Agasta Raden Surawisesa Putra Prabu Siliwangi dari Nyai Kentring Manik. Merupakan pewaris takhta Pajajaran.
Dwi Putrantiwi Nyi Burak Siluman a.k.a Durga Musuh besar Pajajaran. Ia memiliki dendam pada Siliwangi karena suaminya dihukum mati.
Ade Fitrie Dewi Kembang Teman seperguruan Burak Siluman. Ia culas dan licik. Termasuk dalam golongan hitam musuh besar Pajajaran.
Alex Sukamto Ki Selut Musuh lama Siliwangi. Ia sempat dikalahkan Siliwangi dengan ajian Halimun Geni.Ia sekarang Menjadi Pengabdi Pajajaran.
Louise Anastasya Nyai Genit Mantan Istri Jurik Ciwis dan ibu Adi Sijunjung. Ia dulunya mencintai Siliwangi, namun kini bergabung dalam golongan hitam musuh Pajajaran.
Jedi Saputra Jurik Ciwis Ayah Adi Sijunjung. Ia sekarang berbagung Dengan Pajajaran.
Vicky Adi Sijunjung Anak Jurik Ciwis. Ia pernah mati di tangan Siliwangi oleh ajian Tapak Geni Tetapi Ia sekarang berbagung Dengan Pajajaran Bersama Jurik Ciwis.
Rita Hasan Sekar Wangi Bibi Mahesa. Tokoh yang sempat dendam pada Siliwangi, namun akhirnya berubah total.
Marcello Mahesa Raja Burangrang sombong yang mendapat kekuasaannya setelah sang ayah wafat. Ia sangat dendam pada Kian Santang.
Arry Febriansyah Resi Batara Kuncung Putih Guru spiritual Prabu Siliwangi. Ia dikenal mampu menghilangkan Kerajaan Pajajaran dengan ajian Halimun Ageng.
Chairil J.M. Syeh Nurjati Guru spiritual Raden Kian Santang.
H.Sutrisna Syeh Hasanudin Guru spiritual Subang Larang dari Pesantren Quro.
Zainal Chainago Syeh Mursyam Guru spiritual Raden Walangsungsang.
Alex Jouhanny Ki Awing Musuh besar Prabu Siliwangi. Ia pernah mencuri Keris Ciung Wanara dengan warangkanya. Ia sekarang mati di tangan Siliwangi Oleh ajian Halimun Geni.
Age Al Ghofar Ki Astagina Adik seperguruan Resi Batara Kuncung Putih. Guru spiritual Sekar Wangi.
Nurjen Kang Lengser Pramu kerajaan.
Emmie Lemu Nyi Ipah Prami kerajaan.
Teuku Wisnu Senopati Wisnuaji Suami Rengganis ,Senopati Pajajaran yang baik budi dan hatinya. Ia diangkat di masa pemerintahan Surawisesa.
Arifin Gunawan Maung Bodas Pembantu raja, dan simbol Pajajaran karena dekat dengan Siliwangi.
Buche R Noor Munding Bodas Kawan seperguruan Maung Bodas, pengabdi pada Pajajaran.
Nella Anne Nyi Ajar Saketi Guru spiritual Nyimas Rarasantang.
Baby Gracia Rengganis Istri Senopati Wisnu Aji ,Mantan Pacar Tapak Wulung
Vista Putri Rangga Sari Guru spiritual Tapak Wulung.
Rizal Fadly Tabib Liem Suami Anjani ,Tabib Kerajaan Pajajaran
Ricky Djauhari Raden Surakerta Adik Prabu Amuk Marugul, ia tidak suka dengan pemerintahan amuk marugul dengan cara kejam

Bentar Lodaya Guru spiritual Maung Bodas.

Biksu Chang Guru spiritual Tabib Liem.
Donny Michael Tapak Wulung /Suryajaya Mantan Pacar Rengganis ,Ia Sangat dendam Kepada Wisnu Aji.Nama aslinya adalah Surya Jaya adik kandung Wisnu Aji yang telah lama hilang.
Saphira Indah Ratu Laut /Diah Kencana Wangi Ratu Yang Ingin Menikah Kepada Prabu Siliwangi tetapi gagal.Yang juga musuh Pajajaran dari golongan aliran hitam.Nama Sebenarnya adalah Diah Kencana Wangi.
Lia Ladysta Ratu Serigala Teman Burak Siluman dan Dewi Kembang.Yang merupakan musuh Pajajaran.

Syech Sofyan Shaolin Guru spiritual Wisnu Aji.

Ki Banyu Wening Guru spiritual Ajar Saketi.
Cole Gribble dan Menco Hidayat Raden Arya Kemuning Anak Syech Nurjati ,Teman Kian Santang

Sinopsis

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (Ananda George), Raja Pajajaran mempunyai dua orang permaisuri. Pertama adalah Kentring Manik Mayang Sunda, dan mempunyai putra bernama Surawisesa, kelak menjadi pewaris takhta Pajajaran. Kentring Manik ini merupakan adik dari Prabu Amuk Marugul, Raja Japura, di kawasan Pasundan bagian utara (pesisir).
Dan yang kedua bernama Nyai Subang Larang (Inne Azri). Nyai Subang Larang berasal dari keluarga Muslim. Ayahnya seorang syah bandar di Karawang, bernama Kiai Tapa. Sejak kecil Nyai Subang Larang belajar ilmu agama, atau nyantri di Pesantren Quro milik Syeh Hasanuddin.
Buah pernikahanannya dengan Nyai Subang Larang, Prabu Siliwangi mempunyai dua orang putra, dan satu orang putri yaitu Raden Walang Sungsang (Ahmad Ridho), atau dikenal dengan Pangeran Cakra Buana, lalu Nyi Mas Lara Santang (Rientammy) dan yang ketiga bernama Raden Kian Santang (Alwi Assegaf). Ketiga anak ini dibesarkan dalam pengajaran Islam sehingga tumbuh menjadi muslim dan muslimah yang taat. Sejak lahir Kian Santang sudah menampakkan keistimewaannya. Antara lain, sejak kecil dia sudah pintar membaca Al Qur’an, membaca kejadian yang akan datang, tahu apa yang ada di pikiran orang lain, suka menolong, dan lebih dekat dengan masyarakat miskin ketimbang kalangan istana. Namun, ada yang cemas dengan kelahiran Kian Santang, yaitu Nini Durga (Dwi Putrantiwi), tokoh aliran hitam. Tokoh ini sangat sakti, bisa menjelma jadi apa saja. Dia juga punya banyak pengikut yang sangat setia, rela melakukan apa saja yang diperintahkan Nini Durga.
Lahirnya Kian Santang sudah diramalkan oleh Nini Durga, bahwa anak itu kelak bakal menjadi penghalang sepak terjangnya. Wanita penyihir yang sakti ini lalu berusaha menyingkirkan Kian Santang dengan berbagai cara. Dengan kesaktiannya dia menjelma apa saja untuk bisa mendekati Kian Santang kecil. Tapi, usahanya selalu gagal karena Kian Santang sangat cerdik. Di samping bisa membaca pikiran orang, juga banyak akal. Sering kali ayah Kian Santang, Prabu Siliwangi muncul menolongnya juga dengan menyamar. Syeh Hasanuddin, kakek gurunya juga kadang-kadang muncul, mengajarkan mengaji atau ilmu-ilmu kesaktian lainnya.

Pranala luar

Kamis, 12 Desember 2013

Biodata Ananda George

BIODATA ANANDA GEORGE
Nama             : Ananda George
Lahir              : Bandung, 25 November 1977
Tinggi Badan : 178 Cm
Berat Badan   : 74 Kg
Istri                : Silvie
Anak              :

  1. TAKESHI ARIA ZULKARNAIN KUSUMA
  1. FATIMAH
  1. SEVHA


Akun Pribadi :

1 . Twitter (@anandageorge)

Istri (@silviebedul)

2. Facebook (Ananda Takeshi George) / "jo_takeshi25@yahoo.co.id



An An Kusmardian atau yang lebih dikenal dengan Ananda George (lahir di BandungJawa Barat25 November 1979; umur 34 tahun) adalah aktorIndonesia. Ia dikenal luas sebagai pemeran Prabu Siliwangi dalam serial televisi Raden Kian Santang yang setiap hari ditayangkan di MNCTV. Pria asal Bandung ini juga berperan sebagai aktor dalam film multinasional The Raid.

Dalam Pilkada Garut 2013, An An mencalonkan diri sebagai wakil bupati yang berpasangan dengan H. Ahmad Bajuri (Ketua DPRD Garut), keduanya diusung oleh Partai Demokrat[1].


Sine-tron/FT V:




1. Lo Fen Koei. RCTI 2001 

2. Cinta Memerah Darah. TV1 2002

3. Menulis Di Atas Air. RCTI 2003 

4. Bintang Laut. RCTI 2003

5. Raja Maling. RCTI 2004 

6Putaran Mimpi Di Pinggiran Jakarta. RCTI 2004

7. Siapa Mati Terakhir. TRANS TV 2004

8. Ada Apa Dengan Cinta. RCTI 2004

9. Malam Pertama 2. SCTV 2004

10. Anak-anak Tajir. ANTV 2004

11. Si Cantik dan Si Buruk Rupa. RCTI 2005

12. Bunga Di Tepi Jalan. RCTI 2005

13. Astagfirullah. SCTV 2005

14. Liontin 2. RCTI 2006

15. Anak Cucu Adam. RCTI 2006

16. Lorong Waktu 6. SCTV 2006

17. Bintang. RCTI 2006

18. Selebriti Juga Manusia. TRANS TV 2006

19. Kembang Surga. RCTI 2006

20. Pintu Hidayah. RCTI 2007

21. Asal Mula PulauSamosir. TPI 2007

22. Laksamana Cheng Ho. METRO TV 2008

23. Cinema Romantis (Warteg Cinta). RCTI 2008

24. Ayu. GLOBAL TV 2008

25. Bukan Cinta Terakhir. TRANS 7 2009

26. Wali Songo ( Sunan Bonang ) TPI 2010

27. Putih Cinta dr.Anissa ( TPI ) 2010

28. Wali songo (sunan Bonang) TPI 2010

29. Prasasti (Impian Roro Ireng) TPI 2010

30. Catatan Seorang Jurnalis (Tv One) 2010-2011

31. Nada cinta (indosiar) 2011

32. Cinta Sejati ( MNCTV) 2011

33. RADEN KIAN SANTANG (MNCTV) 2012

34. The Good Babe (2010)










  • Minat Pribadi


  • TAMBAHAN SEDIKIT :

    BioData An An Kusmardian/ANANDA GEORGE:

    Lahir : Bandung, 25 November 1977 / 36 tahun
    Alamat :Jl. Sabeni, RT. 019/RW 012. Kel. Kota Kebon Melati,  Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat
    Agama Islam
    Istri : Silvie
    Keluarga Kandung :
    -         Dini Kusmardini
    -         Dani Kusmardani
    -         Reno Fadhl
    Pekerjaan : Wirausaha / Aktor
    Pendidikan :
    -         SD Yakeswa Bersubsidi Bandung th 1992
    -         SMP Swasta Pasundan 3 Bandung th 1995
    -         SMUN 3 Cirebon th 1998
    Riwayat Organisasi :
    -         Pengurus Pasulukan Loka Gandasamita
    -         Pengurus Taekwondo
    Riwayat Pekerjaan :
    Filmography
    -         Cau Bau Kan, Th. 2002
    -         The Soul, 2004
    -         Maaf Saya Menghamili… 2007
    -         Sebelah Mata , 2008
    -         Takut (The Rescue), 2008
    -         Good Babe, 2010
    -         Rayuan Arwah Penasaran, 2010
    -         Selimut Berdarah, 2010
    -         Obama Anak Menteng, 2010
    -         Cinta Sejati 2011
    -         Nada Cinta 2011
    -         Prabu Kiansantang, 2012-sekarang.




  • Sabtu, 23 November 2013

    An An Kusmardian "Ananda George" Harapkan pilkada hemat syuting

    An An “Prabu Siliwangi” Kusmardian Harapkan Pilkada Hemat

    syuting film laga "Raden Kian Santang"



    An An “Prabu Siliwangi” Kusmardian Harapkan Pilkada HematPemeran Prabu Siliwangi dalam serial televisi “Kiansantang” yang juga sebagai bakal calon (Balon) Wakil Bupati Garut periode 2014 – 2019 yang diusung Partai Demokrat, An An Kusmardian mengharapkan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Garut September mendatang berlangsung dengan hemat, tanpa memboroskan uang rakyat. Untuk hematnya Pilkada itu, salah satu caranya dengan terselenggara satu putaran.
    Pilkada satu putaran pun, menutut dia, selain menghematkan anggaran, juga akan menghasilkan kualitas Pilkada lebih baik. Di mana, kontestan pemenang akan lebih legitimite, didukung penuh pemilihnya. Hal ini akan sangat berbeda hasilnya dengan Pilkada yang diselenggarakan dengan dua putaran. Kontestan yang menang, tidak menutup kemungkinan, lahir dari hasil “jual beli” suara antar para kontestan Pilkada yang kalah dalam putaran pertama.

    “Itu kan bisa saja terjadi. Untuk memenangkan Pilkada ini ada pasangan calon yang melakukan ‘pembelian’ suara atau melakukan deal-deal tertentu dengan pasangan yang tidak lolos dalam putaran pertama. Tentu ini akan membebani kontestan pemenang, di mana dalam menjalankan kekuasaannya nanti pemenang harus melaksanakan deal-deal tersebut,” kata An An “Prabu Siliwangi” Kusmardian.
    Namun, dijelaskan dia, terselenggaranya Pilkada Garut 2013 dengan satu puran sangat sulit terjadi manakala pasangan calon (kontestan) yang ikut dalam Pilkada ini begitu banyak. Sebab, tambah An An, dengan banyaknya pasangan calon itu suara pemilih pun akan terpecah. “Dalam kondisi ini tidak akan ada pasangan calon yang bakal memperoleh suara pemilih secara signifikan pada putaran pertama. Sudah barang tentu, harapan untuk menjadikan Pilkada satu putaran jadi sangatlah sulit,” tegas balonwabup yang berpasangan dengan balonbup, Ahmad Bajuri ini.
    An An berharap masyarakat pemilih cerdas dalam menentukan pihannya pada pasangan calon Bupati/Wakil Bupati Garut yang akan ‘bertanding’ dalam Pilkada nanti. Sebab dengan kecerdasan pemilih inilah, Pilkada dapat menghasilkan pasangan calon yang memperoleh suara signifikan dan legitimit. Hasil pilihan inipun yang kemudian akan menentukan masa depan Kabupaten Garut dalam lima tahun mendatang. “Tentunya kita berharap tidak lagi terjadi kegagalan kepemimipinan Garut seperti pada dua periode sebelumnya. Dari pemilih cerdas pun, harapan penyelenggaraan Pilkada hemat dengan satu putan, tidak menutup kemungkinan akan terjadi,” ujarnya.

    by: Gosip Garut

    Wakil Bupati dari Kalangan Artis Tak Laku di Garut

    Wakil Bupati dari Kalangan Artis Tak Laku di Garut

    Wakil Bupati dari Kalangan Artis Tak Laku di Garut
    Petugas TPS khusus mendatangi pasien yang memiliki hak pilih pada Pilkada Kabupaten Garut di RS dr Slamet, Garut, Jawa Barat, (26/10). TEMPO/Aditya Herlambang

    TEMPO.CO, GARUT - Dua calon wakil Bupati dari kalangan selebritis, tidak laku dalam pemilihan kepala daerah Garut, Jawa Barat, yang dilaksanakan Ahad, 08 September 2013. Terbukti, perolehan dukungan mereka tak melampaui angka tujuh persen.

    Dua orang artis yang berlaga di pilkada Garut yakni penyanyi era tahun 90an, Deddy Dores, yang mendampingi Dedi Suryadi dari jalur perseorangan dan An An Kusmardian (Ananda George) mendampingi Ahmad Bajuri diusung Partai Demokrat.

    “Perolehan suara dari kalangan artis tidak bagus,” ujar Humas Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Garut, Abdal, kepada Tempo.

    Menurut Abdal, hasil real count dari tiap pemungutan suara yang disampaikan ke komisi pemilihan, perolehan suara dua artis ini dibawah tujuh persen. Dari total suara sah yang baru masuk 1 juta lebih suara, Deddy Dores hanya memperoleh suara sebesar 5,55 persen atau sekitar 57 ribu suara.  Sedangkan An An Kusmardian hanya memperoleh suara sebesar 4,69 persen atau 47.997 suara.

    “Meski baru sementara, tapi hasilnya tidak akan terlalu jauh berubah,” ujar Abdal.

    Pengamat Politik Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, menilai tidak lakunya calon artis ini diakibatkan karena masyarakat Garut khawatir kepemimpinan mereka tidak tuntas seperti halnya mantan wakil Bupati Garut, Diky Chandra. Selain itu, kedua artis ini juga tidak memiliki nilai plus dimata pemilih.

    “Masyarakat Garut sudah jenuh dengan artis, apalagi bila mereka hanya jual tampang saja tak memiliki pengalaman dalam pemerintahan dan politik,” ujarnya. SIGIT ZULMUNIR

    An-An Kusmardian, Kembalikan Kejayaan Garut Melalui Budaya


    An An Kusmardian (Ananda George)


    Post By : Internet copypaste
    Ketertarikan An-An Kusmardian (Ananda George) terjun kedunia politik, mendampingi Ahmad Bajuri di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kab. Garut, 8 September mendatang terinsfirasi kesamaan visi dan misi. Yakni, membangun tanah kelahiran, menumbuhkembangkan dan melestarikan nilai-nilai budaya yang nyaris tenggelam tergerus kemajuan zaman.
    Sebagai calon Wakil Bupati yang diusung Partai Demokrat, pemeran utama film laga, Prabu Siliwangi, disela-sela kesibukan agenda shooting-nya mengaku siap mengembalikan kejayaan kota Intan melalui politik berbudaya.
    Selain itu, Ahmad Bajuri merupakan sosok seorang Budayawan dan Negarawan dinilai bakal mampu menjalankan roda Pemerintahan Garut. “ Berangkat dari sanalah, saya siap bertarung untuk memenangkan Pilkada mendatang. Terlebih, saya juga asli keturunan Garut Selatan, tepatnya di wilayah Kecamatan Cibalong,” ujar An-An.
    Kendati belum memiliki pengalaman dikancah perpolitikan, aktor laga yang satu ini siap berkiprah dan bisa bersinergi dengan Ahmad Bajuri, calon Bupati Garut, seorang politisi yang telah malang melintang di dunia politik.
    Mengakhiri bincang-bincangnya di lokasi shooting, An An Kusmardian menyatakan, jabatan bukanlah sebuah hadiah. Tapi sebuah kepercayaan dan amanah yang diberikan oleh seluruh masyarakat. Hal ini tentu saja harus di-implementasikan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Jangan sekali-kali dijadikan sebuah ajang manfaat untuk mencari keuntungan,” pungkasnya.


    BioData An An Kusmardian:

    Lahir : Bandung, 25 November 1977 / 36 tahun
    Alamat :Jl. Sabeni, RT. 019/RW 012. Kel. Kota Kebon Melati,  Kec. Tanah Abang, Jakarta Pusat
    Agama Islam
    Istri : Silvie
    Keluarga Kandung :
    -         Dini Kusmardini
    -         Dani Kusmardani
    -         Reno Fadhl
    Pekerjaan : Wirausaha / Aktor
    Pendidikan :
    -         SD Yakeswa Bersubsidi Bandung th 1992
    -         SMP Swasta Pasundan 3 Bandung th 1995
    -         SMUN 3 Cirebon th 1998
    Riwayat Organisasi :
    -         Pengurus Pasulukan Loka Gandasamita
    -         Pengurus Taekwondo
    Riwayat Pekerjaan :
    Filmography
    -         Cau Bau Kan, Th. 2002
    -         The Soul, 2004
    -         Maaf Saya Menghamili… 2007
    -         Sebelah Mata , 2008
    -         Takut (The Rescue), 2008
    -         Good Babe, 2010
    -         Rayuan Arwah Penasaran, 2010
    -         Selimut Berdarah, 2010
    -         Obama Anak Menteng, 2010
    -         Cinta Sejati 2011
    -         Nada Cinta 2011
    -         Prabu Kiansantang, 2012-sekarang.